Magister Ekonomi Syariah (MES) UIN Sunan Kalijaga Dorong Integrasi SDGs dan Ekonomi Syariah dalam Pembelajaran

Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Program Studi Magister Ekonomi Syariah (MES), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terus mendorong penguatan pembelajaran yang relevan dengan persoalan pembangunan berkelanjutan. Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Buku Ajar Sustainable Development Goals (SDGs) yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan alumni ini tidak hanya membahas pengembangan buku ajar SDGs dalam bingkai ekonomi syariah, tetapi juga menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan bagaimana materi pembelajaran dapat membantu mahasiswa memahami persoalan pembangunan, membangun argumentasi, serta merumuskan alternatif solusi.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah, Dr. Muh. Ghafur Wibowo, S.E., M.Sc., didampingi Sekretaris Program Studi, Fitri Zaelina, S.E.I., M.E.K. Dalam sambutannya, Kaprodi menekankan pentingnya menghadirkan bahan ajar yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu menghubungkan agenda pembangunan berkelanjutan global dengan nilai, prinsip, dan instrumen ekonomi syariah.

“Buku ajar perlu mampu menjembatani pengetahuan dengan persoalan nyata pembangunan sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melihat relevansinya dalam kehidupan dan praktik ekonomi,” demikian arah pengembangan pembelajaran yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Menelaah Dua Buku sebagai Fondasi Pengembangan Buku Ajar

Sesi pertama menghadirkan Aminuddin, S.E., M.E., yang menyampaikan telaah terhadap dua buku yang menjadi bahan pengembangan buku ajar SDGs. Telaah dilakukan melalui lima dimensi, yaitu substansi, sistematika, pendekatan akademik, gaya penyajian, dan nilai edukatif.

Dari sisi substansi, kedua buku menunjukkan kekuatan yang saling melengkapi. Salah satu buku menempatkan SDGs dalam bingkai ekonomi Islam dengan menghubungkan agenda pembangunan dengan maqashid al-syariah, nilai keadilan, keseimbangan, amanah, serta berbagai instrumen ekonomi Islam seperti zakat, wakaf, keuangan syariah, sukuk, UMKM, dan industri halal. Sementara itu, buku lainnya membahas transformasi ekonomi syariah menuju pembangunan berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas, antara lain keuangan syariah, zakat, wakaf, UMKM, industri halal, digitalisasi, kebijakan publik, ekonomi riil, dan isu lingkungan.

Aminuddin menilai kedua buku tersebut memiliki potensi yang kuat untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran karena mempertemukan konsep ekonomi syariah dengan berbagai persoalan pembangunan kontemporer. Pengembangan selanjutnya perlu diperkuat melalui studi kasus, data empiris, modul pembelajaran, serta pengayaan konteks global dan komparatif.

Penguatan tersebut diharapkan membuat buku ajar tidak berhenti pada keluasan materi, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, analitis, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.

Dari Buku sebagai Sumber Informasi Menuju Ruang Pembelajaran

Sesi berikutnya menghadirkan Wahyu Wibowo, S.Pd., M.Pd., M.E., melalui materi bertajuk “Dari Gagasan Menuju Pembelajaran: Membaca Potensi Dua Buku Ekonomi Syariah dalam Menjawab Agenda Pembangunan Berkelanjutan”.

Wahyu menekankan bahwa buku ajar idealnya tidak berhenti sebagai sumber informasi. Buku ajar yang kuat perlu menjadi ruang pembelajaran yang membantu mahasiswa bergerak dari memahami konsep menuju kemampuan membaca persoalan, membangun argumentasi, menggunakan data dan kasus, menghubungkan teori dengan realitas, mengevaluasi berbagai pendekatan, hingga merumuskan solusi dan rekomendasi.

Menurutnya, ekonomi syariah tidak berdiri di ruang kosong. Kajian ekonomi syariah berhadapan langsung dengan berbagai persoalan pembangunan, mulai dari kemiskinan, ketimpangan, ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan layak, kesetaraan gender, lingkungan, hingga perubahan iklim. Karena itu, materi dalam buku ajar dapat dikembangkan melalui alur pembelajaran yang menghubungkan konsep, konteks, bukti, analisis, evaluasi, dan solusi. Setiap bab tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk membaca fenomena pembangunan dan mengembangkan kemampuan akademiknya.

Dua buku yang ditelaah dalam FGD dipandang memiliki potensi untuk saling melengkapi. Buku pertama memberikan peta persoalan pembangunan melalui agenda SDGs, sedangkan buku lainnya memperkaya peta respons melalui nilai, maqashid al-syariah, instrumen ekonomi Islam, serta berbagai sektor ekonomi. Keduanya dapat diarahkan menjadi bahan pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk memahami, membandingkan, menganalisis, mengevaluasi, dan merumuskan alternatif.

Melalui FGD ini, Program Studi Magister Ekonomi Syariah FEBI UIN Sunan Kalijaga tidak hanya mendorong pengembangan buku ajar SDGs yang mengintegrasikan nilai dan instrumen ekonomi syariah, tetapi juga memperkuat ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan analitis.

Pengembangan buku ajar diarahkan agar mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan mengetahui dan memahami, tetapi mampu membaca konteks pembangunan, menggunakan bukti dan pengalaman empiris, menghubungkan teori dengan realitas, serta merumuskan respons yang relevan.

Pada saat yang sama, penguatan perencanaan studi menjadi bagian penting dalam memastikan proses pendidikan berjalan secara terarah dan tepat waktu. Dua agenda tersebut pada akhirnya bertemu pada tujuan yang sama: membangun pembelajaran ekonomi syariah yang lebih kontekstual sekaligus menyiapkan mahasiswa menjadi akademisi dan profesional yang mampu merespons persoalan pembangunan berkelanjutan melalui ilmu, analisis, dan kontribusi nyata. []

Penulis: Taufikur Rohman