Petualangan Tinta dan Kuas: Mahasiswa MES di China Menggali Kekayaan Budaya Lokal Lewat Seni Kaligrafi Tiongkok
Wuxi, Jiangsu — Sebagai bagian dari program pertukaran pelajar, mahasiswa Indonesia yang tengah mengikuti studi di Wuxi Institute of Technology (WXIT) China berkesempatan mengikuti workshop kaligrafi Tiongkok yang digelar di Gedung Internasional kampus. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan budaya yang diadakan untuk memperkenalkan lebih dalam budaya Tiongkok kepada mahasiswa Internasional, termasuk mereka yang berasal dari Indonesia. Workshop kaligrafi ini dihadiri oleh 30 mahasiswa Internasional, termasuk 2 mahasiswa asal Indonesia dari Program Studi Magister Ekonomi Syariah (MES) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga, yang sangat antusias mempelajari seni tradisional Tiongkok. Wu Guoya yang merupakan anggota Asosiasi Penelitian Lukisan Pemandangan Provinsi Jiangsu, menjadi instruktur utama dalam acara tersebut, membimbing para peserta dalam mengenal sejarah kaligrafi Tiongkok dan teknik dasar menulis karakter Tiongkok menggunakan kuas. Kaligrafi Tiongkok bukan hanya tentang seni menulis, tetapi juga tentang kedamaian dan filosofi hidup. Setiap goresan kuas memiliki makna yang mendalam,"ujar Wu Guoya". Melalui workshop ini, kami berharap para mahasiswa dapat memahami lebih dalam nilai-nilai budaya Tiongkok.
Acara ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa Internasional yang hadir, termasuk mahasiswa dari Tanzania, Kongo, Pakistan, Uzbekistan, Malaysia, dan Mongolia. Para peserta juga berkesempatan untuk mengikuti sesi praktik langsung, di mana mereka belajar menulis beberapa karakter sederhana menggunakan kuas dan tinta khas Tiongkok. Beberapa karakter yang diajarkan meliputi “Kebahagiaan” (幸福), “Harapan” (希望), dan “Perdamaian” (和平), yang menjadi simbol positif dan universal dalam budaya Tiongkok.
Mahasiswa MES Muhammad Rafiuddin, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap seni kaligrafi Tiongkok. "Ini adalah pengalaman baru yang luar biasa. Mempelajari kaligrafi Tiongkok membuka wawasan saya tentang betapa mendalamnya nilai-nilai budaya Tiongkok yang diwariskan selama ribuan tahun," ucap Rafi. Sementara Nesha Rizky Ashari yang juga menjadi salah satu peserta, menyatakan bahwa menulis kaligrafi Tiongkok mengajarkan dirinya untuk menghargai waktu dan ketelitian. “Melalui kaligrafi, saya belajar untuk lebih sabar dan menghargai proses. Setiap goresan tidak hanya soal hasil, tapi juga perjalanan dalam mencapainya dan juga makna yang dikandungnya. Selain itu, kami juga tidak hanya melukis di kertas tetapi juga melukis karya di sebuah kipas” Kata Nesha.
Acara workshop diakhiri dengan foto bersama dengan instruktur, para dosen dan juga hasil karya tangan kreatif mahasiswa Internasional yang mereka telah buat dan pelajari dengan penuh semangat. Hasil karya kaligrafi yang beragam ini menjadi simbol persahabatan dan pertukaran budaya antar mahasiswa dari berbagai latar belakang. Sebagai penghargaan atas partisipasi, seluruh peserta diperbolehkan membawa dan menyimpan hasil karyanya dan juga hadiah souvernir yang telah diberikan oleh penyelenggara. Hal ini menjadi kenang-kenangan berharga bagi mahasiswa yang mengikuti program pertukaran di Tiongkok, China.
Kegiatan kaligrafi ini menjadi salah satu cara bagi mahasiswa Internasional, khususnya dari Indonesia, untuk lebih memahami dan menghargai budaya Tiongkok. Panitia berharap bahwa program ini tidak hanya memperkaya pengalaman para peserta, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa, meningkatkan rasa saling pengertian dan kerjasama antara Indonesia dan Tiongkok melalui seni dan budaya. [NRA]